Artikel  |  Diposting oleh: Admin | Rabu, 05 Juli 2023       |   2186

Sebuah buku dari Thomas Piketty berjudul Capital in the Twenty-First Century memiliki argumen sederhana yang sangat mendalam. Argumen tersebut adalah: modal yang diinvestasikan dalam pasar saham dan real estate akan bertumbuh lebih cepat daripada pendapatan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ada dua hal yang bisa kita ambil. Pertama: kita tidak akan pernah kaya jika hanya mengandalkan uang hasil pendapatan semata. Kedua: untuk memiliki modal yang diinvestasikan maka kita harus punya uangnya terlebih dahulu dan itu adalah sistem yang berlaku di dunia kapitalis sekarang ini. Sebagian dari kita akan mengkerutkan dahi dan menggelengkan kepala mendenger argumen tersebut, khususnya yang berpegang pada filosofi ekonomi konvensional.

Dalam konteks individu ataupun berumah tangga, yang perlu dilakukan untuk menuju hidup sejahtera adalah pola hidup sederhana. Kuncinya adalah habiskan kurang dari yang kita dapatkan, lalu berinvestasilah. Fokuslah kepada fungsi dan manfaat, bukan gengsi dan kenyamanan. Memiliki serta mengendarai mobil memang terlihat wah dan nyaman, tetapi sesekali menggunakan transjogja tidaklah salah dan dapat mengurangi tingkat kemacetan kota Jogja. Shopping di mall dan selfie ketika shopping kemudian di upload di media sosial mungkin terlihat keren, tetapi belanja di pasar tradisional juga menyenangkan.

Kesenjangan ekonomi akhir-akhir ini semakin tampak. Hal ini dapat terlihat dari golongan “kapitalis” yang akan semakin cepat melipatgandakan kekayaan mereka, sedangkan golongan yang berpenghasilan rendah menjadi golongan yang paling dirugikan. Akan menjadi suatu masalah besar bila kita tidak memiliki modal untuk investasi sementara penghasilan dari pekerjaan kita adalah pas-pasan. Semakin menjadi masalah yang lebih besar lagi bila dalam kondisi tersebut, kita masih mementingkan akan gengsi, tampilan, serta kenyamanan dan bukannya bekerja semakin keras dengan modal yang dimiliki untuk mendapatkan penghasilan yang lebih. Bila kita tidak dapat meningkatkan pendapatan, kita perlu melakukan maintain standar hidup kita dengan menekan biaya. Tetapi apabila kita memiliki uang sisa yang bersifat ‘dingin’, hendaknya kita gunakan untuk berinvestasi.

Kenapa harus investasi? Karena dengan saving saja tidak cukup. Tingkat inflasi rata-rata negara kita hampir mencapai tingkat bunga deposito perbankan. Apalagi dengan menabung yang hanya memberikan bunga sekitar 1-2%. Nilai uang kita akan habis dimakan inflasi. Ada beberapa instrumen investasi yang dapat digunakan. Mulai dari menggunakan obligasi, reksadana, sampai dengan saham murni. Investasi bisa juga berupa emas dan properti. Bagi para pemula, lebih baik menggunakan alat investasi reksadana untuk ‘test the water’ sebagai wahana untuk menguji dan melatih jiwa berinvestasi. Reksadana merupakan produk yang relatif murah, aman, dan dapat dimulai dengan modal yang kecil. Misal kita investasi ke reksadana sebesar Rp300.000,- setiap bulan. Anggap saja kita berinvestasi ke reksadana selama 40 tahun dan investasi naik 10%, maka pada tahun ke-40 kita akan memperoleh 1,5 miliar rupiah. Bila ternyata setahun dapat 15%, maka kita akan memperoleh 6,5 miliar rupiah. Semakin besar dan semakin lama investasi, semakin besar pula yang akan diterima. Semua bisa menjadi miliader. Yang diperlukan hanyalah kedisplinan dan keberanian dalam memulai dan menjalankan.

Pertanyaannya adalah seberapa kuat kita berkomitmen untuk berinvestasi? Secara psikologis, manusia lebih senang untuk bersenang-senang sekarang (instan gratification) daripada menunda demi kesenangan yang lebih besar di masa depan. Bila teman kita memiliki Iphone 14 Pro Max dan kita masih menggunakan handphone edisi empat tahun yang lalu atau teman kita dapat mencicil motor sport baru tiap bulannya serta menggeber-geberkan nya, dan kita hanya mencicil reksadana setiap bulan dan dapat menggeber apa?

Pada akhirnya, semakin kita bisa menekan biaya dan mengatur standar hidup kita, semakin lama pula kita dapat bertahan hidup dengan pendapatan yang kita terima. Hidup sederhana bukanlah hidup miskin. Hidup sederhana adalah hidup yang menuju kesejahteraan penuh. Mari berjuang bersama meningkatkan kemampuan golongan pendapatan rendah agar menjadi sejahtera. Pilihannya tinggal apakah kita mau mengoptimalkan kemampuan ekonomi untuk masa depan atau hanya memenuhi keinginan nafsu pribadi yang akan termakan zaman.

 

Dheni Indra Kusuma SE., M.Si., Ak., CFP