Artikel  |  Diposting oleh: MinDigs | Selasa, 14 Juli 2026       |   512

Perbedaan Sukuk dan Obligasi: Pengertian, Cara Kerja, Kelebihan, dan Contohnya

Sukuk dan obligasi merupakan dua instrumen investasi pendapatan tetap (fixed income) yang banyak digunakan oleh pemerintah maupun perusahaan untuk memperoleh pendanaan. Meskipun memiliki tujuan yang sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari sisi konsep, mekanisme, hingga prinsip yang digunakan. Memahami karakteristik masing-masing instrumen akan membantu investor memilih investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risikonya.

Apa Itu Sukuk?

Sukuk adalah surat berharga syariah yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah Islam sebagai bukti kepemilikan atas suatu aset, proyek, atau manfaat dari aset tertentu. Berbeda dengan obligasi konvensional, sukuk tidak memberikan bunga, melainkan imbal hasil berdasarkan akad syariah seperti ijarah, mudharabah, atau musyarakah.

Di Indonesia, sukuk diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan sebagai salah satu alternatif pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah. Instrumen ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Apa Itu Obligasi?

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan kepada investor dengan janji pembayaran pokok utang pada saat jatuh tempo serta pembayaran bunga (kupon) secara berkala.

Dalam investasi obligasi, investor bertindak sebagai pihak yang memberikan pinjaman kepada penerbit. Sebagai kompensasi, investor memperoleh kupon sesuai tingkat bunga yang telah disepakati hingga masa jatuh tempo.

Obligasi menjadi salah satu instrumen investasi yang populer karena mampu memberikan pendapatan yang relatif stabil, meskipun tetap memiliki risiko seperti perubahan suku bunga dan risiko gagal bayar.

Perbedaan Sukuk dan Obligasi

Walaupun sama-sama termasuk instrumen investasi pendapatan tetap, sukuk dan obligasi memiliki beberapa perbedaan penting sebagai berikut.

Aspek Sukuk Obligasi
Prinsip Berdasarkan syariah Islam Konvensional
Dasar Kepemilikan Kepemilikan atas aset atau manfaat aset Surat utang
Imbal Hasil Bagi hasil, sewa, atau margin sesuai akad Bunga (kupon)
Unsur Riba Tidak mengandung riba Menggunakan bunga
Pengawasan OJK dan DSN-MUI OJK
Akad Menggunakan akad syariah Tidak menggunakan akad syariah

Perbedaan utama terletak pada konsep dasar instrumennya. Sukuk menunjukkan kepemilikan atas aset yang menjadi dasar penerbitan, sedangkan obligasi merupakan bukti hubungan utang-piutang antara investor dan penerbit.

Cara Kerja Sukuk dan Obligasi

Cara Kerja Sukuk

Saat membeli sukuk, investor memiliki bagian kepemilikan atas aset atau proyek yang menjadi dasar penerbitan sukuk. Imbal hasil diperoleh dari manfaat ekonomi aset tersebut, misalnya berupa pembayaran sewa atau pembagian keuntungan usaha.

Ketika jatuh tempo, penerbit akan mengembalikan nilai pokok investasi sesuai ketentuan yang telah disepakati.

Cara Kerja Obligasi

Pada obligasi, investor memberikan pinjaman kepada pemerintah atau perusahaan penerbit. Sebagai imbalannya, investor menerima pembayaran kupon secara berkala hingga jatuh tempo.

Setelah masa obligasi berakhir, penerbit akan mengembalikan pokok investasi kepada investor.

Kelebihan Sukuk dan Obligasi

Kelebihan Sukuk

  • Sesuai dengan prinsip syariah.
  • Terhindar dari unsur riba, gharar, dan maysir.
  • Cocok bagi investor yang menginginkan investasi halal.
  • Imbal hasil relatif stabil.
  • Risiko relatif lebih rendah dibandingkan saham.

Kelebihan Obligasi

  • Memberikan pendapatan kupon secara berkala.
  • Tersedia dalam berbagai pilihan tenor.
  • Likuiditas cukup baik di pasar sekunder.
  • Cocok untuk diversifikasi portofolio.
  • Memberikan pendapatan rutin bagi investor.

Mana yang Lebih Baik: Sukuk atau Obligasi?

Tidak ada jawaban yang mutlak karena pilihan investasi bergantung pada kebutuhan, tujuan keuangan, serta profil risiko masing-masing investor.

Jika Anda mengutamakan investasi yang sesuai dengan prinsip syariah, sukuk dapat menjadi pilihan yang tepat. Sebaliknya, jika fokus utama adalah memperoleh pendapatan tetap tanpa mempertimbangkan aspek syariah, obligasi konvensional dapat menjadi alternatif investasi.

Sebelum berinvestasi, pahami terlebih dahulu karakteristik instrumen, tingkat risiko, jangka waktu, serta kondisi ekonomi yang dapat memengaruhi nilai investasi.

Pelajari Investasi Lebih Mendalam di Bisnis Digital STIE YKPN

Pemahaman mengenai sukuk, obligasi, manajemen risiko, hingga penyusunan portofolio investasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang bisnis, keuangan, maupun teknologi finansial (fintech). Melalui Program Studi Bisnis Digital STIE YKPN Yogyakarta, mahasiswa mempelajari berbagai instrumen investasi, strategi diversifikasi portofolio, serta pengambilan keputusan investasi berbasis data yang relevan dengan kebutuhan dunia bisnis digital saat ini.